5 (Lima) Perkara yang Dapat Meningkatkan Iman Seseorang
Ketahuilah,
iman yang ada di dalam diri seorang hamba itu bisa bertambah dan bisa pula
berkurang atau bahkan hilang tanpa bekas dari diri seseorang. Al-Imam
Abdurrahman bin Amr Al-Auza’i rahimahullah pernah ditanya tentang keimanan,
apakah bisa bertambah. Beliau menjawab: “Betul
(bertambah), sampai seperti gunung.” Lalu beliau ditanya lagi: “Apakah bisa
berkurang?” Beliau menjawab: “Ya, sampai tidak tersisa sedikitpun.”
Demikian
pula Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Ahmad bin Hambal rahimahullah pernah
ditanya tentang keimanan, apakah bisa bertambah dan berkurang? Beliau menjawab:
“Iman bertambah sampai puncak langit yang tujuh
dan berkurang sampai kerak bumi yang tujuh.” Beliau juga menyatakan: “Iman itu
(terdiri atas) ucapan dan amalan, bisa bertambah dan berkurang. Apabila engkau
mengamalkan kebajikan, maka iman akan bertambah, dan apabila engkau
menyia-nyiakannya, maka iman pun akan berkurang.“
Nah,
inilah aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah itu, yakni meyakini bahwa sesungguhnya
iman seseorang itu bisa bertambah dan bisa pula berkurang. Setelah kita tahu
bahwa ternyata iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang, lalu apa yang harus
dilakukan oleh seorang mukmin untuk menjaga kualitas imannya? Al Imam Allamah
Abdurrahman bin Nashr As Sa’di rahimahullah mengatakan: “Seorang mukmin yang diberi taufiq oleh Allah Ta’ala,
dia senantiasa berusaha melakukan dua hal: Pertama, memurnikan keimanan dan
cabang-cabangnya, dengan cara mengilmui dan mengamalkannya. Kedua, berusaha
untuk menolak atau membentengi diri dari bentuk-bentuk ujian (cobaan) yang
tampak maupun tersembunyi yang dapat menafikannya (menghilangkannya),
membatalkannya atau mengikis keimanannya itu.” (At Taudhih wal
Bayan lisy Syajarotil Iman, hal 38).
Saudaraku
muslimin, ketahuilah! Ada
beberapa amalan yang insya Allah akan dapat
menyebabkan bertambahnya iman seseorang, di antaranya adalah:
Pertama: Membaca dan tadabbur (merenungkan atau memikirkan isi kandungan) Al
Quranul Karim. Orang yang membaca, mentadabburi dan
memperhatikan isi kandungan Al Quran akan mendapatkan ilmu dan pengetahuan yang
menjadikan imannya kuat dan bertambah.
Allah
Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan tentang orang-orang mukmin yang berbuat
demikian: “Sesungguhnya orang-orang yang
beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati-hati
mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka bertambahlah
iman bereka, dan kepada Rabb mereka itulah mereka bertawakkal.”
(QS. Al Anfal [8]: 2)
Al Imam Al
Ajurri rahimahullah berkata: “Barangsiapa
mentadabburi Al Quran, dia akan mengenal Rabb-nya Azza wa Jalla dan mengetahui
keagungan, kekuasaan dan qudrah-Nya serta ibadah yang diwajibkan atasnya. Maka
dia senantiasa melakukan setiap kewajiban dan menjauhi segala sesuatu yang
tidak disukai maulanya (yakni Allah Ta’ala).“
Kedua: Mengenal Al Asmaul Husna dan sifat-sifat Allah yang terdapat dalam Al
Quran dan As Sunnah yang menunjukkan kesempurnaan Allah secara mutlak dari
berbagai segi. Bila seorang hamba mengenal Rabbnya dengan
pengetahuan yang hakiki, kemudian selamat dari jalan orang-orang yang
menyimpang, sungguh ia telah diberi taufiq dalam mendapatkan tambahan iman.
Karena seorang hamba bila mengenal Allah dengan jalan yang benar, dia termasuk
orang yang paling kuat imannya dan ketaatannya, kuat takutnya dan muroqobahnya
kepada Allah Ta’ala.
Allah
Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya yang takut
kepada Allah di antara hamba-Nya adalah ulama.” (QS. Fathir [35]:
28). Al Imam Ibnu Katsir menjelaskan: “Sesungguhnya
hamba yang benar-benar takut kepada Allah adalah ulama yang mengenal Allah.”
(Tafsir Ibnu Katsir 3/533).
Ketiga: Memperhatikan siroh atau perjalanan hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam, yakni dengan mengamati, memperhatikan dan
mempelajari siroh beliau dan sifat-sifatnya yang baik serta perangainya yang
mulia.
Al Imam
Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan: “Dari
sini kalian mengetahui sangat pentingnya hamba untuk mengenal Rasul dan apa
yang dibawanya, dan membenarkan pada apa yang beliau kabarkan serta mentaati
apa yang beliau perintahkan. Karena tidak ada jalan kebahagiaan dan
keberuntungan di dunia dan di akhirat kecuali dengan tuntunannya. Tidak ada
jalan untuk mengetahui baik dan buruk secara mendetail kecuali darinya.Maka
kalau seseorang memperhatikan sifat dan akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam dalam Al Quran dan Al Hadits, niscaya dia akan mendapatkan manfaat
dengannya, yakni ketaatannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi
kuat, dan bertambah cintanya kepada beliau. Itu adalah tanda bertambahnya
keimanan yang mewariskan mutaba’ah dan amalan sholih.”
Keempat: Mempraktekkan (mengamalkan) kebaikan-kebaikan agama Islam.
Ketahuilah, sesungguhnya ajaran Islam itu semuanya baik, paling benar
aqidahnya, paling terpuji akhlaknya, paling adil hukum-hukumnya. Dari pandangan
inilah Allah menghiasi keimanan di hati seorang hamba dan membuatnya cinta
kepada keimanan, sebagaimana Allah memenuhi cinta-Nya kepada pilihan-Nya, yakni
Nabiyullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (lihat QS. Al Hujurat [49]:
7)
Maka iman
di hati seorang hamba adalah sesuatu yang sangat dicintai dan yang paling
indah. Oleh karena itu seorang hamba akan merasakan manisnya iman yang ada di
hatinya, sehingga dia akan menghiasi hatinya dengan pokok-pokok dan
hakikat-hakikat keimanan, dan menghiasi anggota badannya dengan amal-amal nyata
(amal sholih). (At Taudhih wal Bayan, hal 32-33)
Kelima: Membaca siroh atau perjalanan hidup Salafush Shalih.
Yang dimaksud Salafush Shalih di sini adalah para shahabat Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orangyang mengikuti mereka dengan baik
(lihat QS. At Taubah [9]: 100). Barangsiapa
membaca dan memperhatikan perjalanan hidup mereka, akan mengetahui
kebaikan-kebaikan mereka, akhlak-akhlak yang agung, ittiba’ mereka kepada
Allah, perhatian mereka kepada iman, rasa takut mereka dari dosa, kemaksiatan,
riya’ dan nifaq, juga ketaatan mereka dan bersegera dalam kebaikan, kekuatan
iman mereka dan kuatnya ibadah mereka kepada Allah dan sebagainya.
Dengan
memperhatikan keadaan mereka, maka iman menjadi kuat dan timbul keinginan untuk
menyerupai mereka dalam segala hal. Sebagaimana ucapan Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyyah rahimahullah : “Barangsiapa
lebih serupa dengan mereka (para shahabat Rasulullah), maka dia lebih sempurna
imannya.” (lihat Kitab Al Ubudiyah, hal 94). Dan tentunya, barangsiapa yang menyerupai suatu kaum,
maka dia termasuk golongan mereka.
Itulah
beberapa amalan yang insya Allah akan dapat menyebabkan bertambahnya keimanan.
Adapun hal-hal yang dapat melemahkan iman seseorang adalah sebaliknya, di
antaranya: Kebodohan terhadap syari’at
Islam, lalai, lupa dan berpaling dari ketaatan, melakukan kemaksiatan dan
dosa-dosa besar, mengikuti hawa nafsu dan sebagainya.
Mudah-mudahan
kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa diberi tambahan iman, dan
dijauhkan dari kelemahan dan kehinaan. Wallahul musta’an.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar